BERPUASA
1. Dasar
a. Al Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa“ (Al-Baqarah :183)
b. Sabda Nabi:“Islam itu dibangun diatas lima perkara (1) syahadat bahwa tidak ada yang
berhak diibadahi selain Allah semata dan Muhammad adalah Rasul-Nya, (2)
mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji, (5) puasa
ramadhan.”(Hr Bukhari, Muslim Dan Ahmad) Syaikh Muhammad, 2007:31
2. Definisi
c. Puasa berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan ibadah
tersebut pada siang hari (mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari). ( ensiklopedi
islam, 2003:112)
d. Shaum menuru bahasa Arab menahan diri dari segala sesuatu, seperti
menahan tidur, menahan berbicara, menahan makan dan sebagainya. (Sulaiman,
1976:216)
3. Sejarah
a. Puasa Orang Dulu Sebelum Islam
i)
Tradisi Universal: Puasa memang
tradisi universal yang ada pada semua agama. Puasa merupakan proses
transendensi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu semua agama.
ii) Puasa Takwa : tujuan puasa
adalah takwa, maka ia identik dengan
transformasi spiritualitas dan sosial dari kondisi awal diri kaum muslimin itu
sendiri kepada kondisi berikutnya; yakni menuju kemanusiaan sejati.
iii) Puasa Bangsa Greek, Mesir Purba, dan Masyarakat Rome: bangsa Greek
melakukan puasa sebelum mereka pergi berperang dan meyakini puasa akan
menguatkan kekuatan mereka, mengajarkan mereka mengenai kesabaran menghadapi
musuh, dan puasa mengajarkan mengenai ketahanan dalam berperang.
iv) Puasa China Kuno: puasa dilakukan saat menghadapi cobaan dan
kesengsaraan.
v) Puasa Hellesentik Kuno: puasa dilakukan guna mendapatkan wahyu dalam
tujuan hidup.
vi) Puasa orang dalam di Amerika: berpuasa guna mendapat wahyu sebagai visi
dan untuk mengawal roh.
b. Puasanya para Nabi / Rasul
i) Puasanya
Rasulullah: “Rasulullulah SAW pernah puasa sehingga kami katakan beliau tidak terbuka. Dan beliau tidak pernah terbuka
sehingga kami katakan beliau tidak berpuasa. Belum pernah saya melihat
Rasulullah SAW mencukupkan puasa sebulan selain bulan Ramadhan. Dan saya tidak
melihat beliau berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada puasanya di bulan
Sya’ban.(Hr bukhari)
ii) Puasa Nabi Dzulkifli: “Pertanyaannya, sebegitu
beraninya Basyar menjawab tantangan sang Raja; apakah ia mampu menjalankan
amanat besar itu? Apakah Basyar sudah terbiasa melakukan Mujahadah dan Riyadhah
berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan terbiasa menahan diri?
Begitulah kenyataannya. Pemuda Basyar – sebelum diangkat sebagai raja dan
diangkat menjadi nabi – memang dikenal sebagai pemuda yang istiqamah
menjalankan puasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan mampu menahan
amarahnya. Maka, ketika ia dinobatkan sebagai raja, tak ada perubahan dalam
dirinya; ia senantiasa menjalankan puasa di siang hari, beribadah di malam
hari, dan menahan marah dalam kehidupannya.
iii) Puasanya
Nabi Daud: Sebagaimana diketahui bahwa Nabi Daud AS dikenal sebagai seorang Rasul
Allah yang sering berpuasa; yakni sehari berpuasa dan sehari berbuka. Ketika
Nabi SAW ditanya tentang puasanya Nabi Daud, Rasulullah menjawab, “Seperdua
masa”. (maksudnya sehari berpuasa dan sehari berbuka)
iv) Puasa Nabi Yusuf: Puasa yang dilakukan itu
mempunyai argumen penting, seperti kata Yusuf AS.,”Aku khawatir jika perutku
selalu kenyang, maka aku lupa terhadap orang yang lapar”.
c. Puasa Binatang dan Alam Semesta
i) Binatang, ayam ketika bertelur, ular saat
pencucian dirinya dan kepompong 40 hari sebelumnya berupa ulat .
ii) Alam semesta:
Bumi bersama bulan yang mengelilingi matahari sebagai porosnya.
(Wawan, 2008: 181-232)
4. Pelaksanaan
a. Rukun Puasa (Menahan diri dan berniat)
b. Puasa diwajibkan (Islam, berakal, baligh, sehat dan menetap)
c. Keringanan Berbuka Wajib Fidyah (Tua,
Sakit, dan Kerja Berat)
d. Puasa Fardhu dan Puasa Sunnah
e. Larangan berpuasa (kedua hari raya,
hari tasyrik, khusus hari Jumat, khusus hari Sabtu, hari yang diragukan
sepanjang masa)
f.
Adab berpuasa (makan sahur,
menyegerakan berbuka, berdoa, menjauhi yang bertentangan dengan berpuasa,
menggosok gigi, murah hati dan mempelajari Al Qur
‘an
dan giat beribadah)
g. Batal puasa(wajib qadha:makan dan minum dengan sengaja, muntah dengan
sengaja)
(Sabiq, 2006: 25-81)
5. Manfaat
a. Berbagai Cara
Pengobatan (Akupuntur, Prana, Aura, Meditasi, dan Puasa)
b . Kontrol
Puasa (Fisik, Fisikis, Sosial dan Spiritual)
c.
Efek Puasa(Sehat, Rendah hati,
Pikiran Jernih, Bijaksana, Tenang dan Tawaddu)
(Mustafa,
2004: 30-134)
ACUAN
Ar Rifa’i Muhammad Nasib. Tafsir Ibnu Katsir, Gema
Insani,Jakarta 1999.
Al Mahalli dan As Suyuti. Tasir Jalalain, Sinar Baru Algensindo Bandung 2006.
Muhammad, Syaik. Majelis Bulan
Ramadhan, Pustaka Imam Asy-Syafii, Jakarta 2004
Mustofa, Agus. Untuk Apa
Berpuasa. Fatma
Press, Surabaya 2004.
Sabiq,
Sayyid. Fiqih Sunnah, Pena Pundi Aksara, Jakarta 2006.
Shihab, M Quraish. Tafsir
Al Misbah, Penerbit Lentera Hati, Jakarta 2002.
Sulaiman Rasjid, Fiqh
Islam, Penerbit Atthiriyah, Jakarta 1976.
Susetya, Wawan. Medis Di
Balik Puasa. Diva Press, Yogyakarta 2008.
Tim. Ensiklopedi Alquran,
PT Kharisma Ilmu, Jakarta 2005.
Tim. Ensiklopedi Islam,
PT Ikhtiar Baru, Jakarta 2003.
Samarinda, 1433 H/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar