Investasi dalam
perspective konsep
DALAM
konsep nilai waktu dari uang (time value of money) ada dua istilah yang cukup
dikenal yakni nilai uang pada saat ini (present value) dan nilai uang pada saat
mendatang (future value).
Dua konsep
ini yang mengilhami lahirnya model-model teori investasi. Dalam konsep itu
disebutkan bahwa nilai uang saat ini berbeda dengan nilai uang masa mendatang.
Artinya, uang Rp 1 juta saat ini akan berbeda nilainya dengan uang Rp 1 juta
pada masa lima atau sepuluh tahun mendatang. Jika saat ini uang Rp 1 juta bisa dipergunakan
untuk membeli satu (1) kwintal atau 100 kg beras, maka lima tahun mendatang
uang Rp 1 juta mungkin hanya bisa membeli 50 kg beras, begitu seterusnya.
Ilustrasi
sederhana di atas menunjukkan bahwa nilai uang pada masa mendatang jika
didiamkan saja akan semakin turun. Penurunan ini disebabkan naiknya harga
barang atau inflasi. Karena itu, agar future value dari uang tetap bertahan
atau bahkan bertambah maka uang itu harus diinvestasikan pada instrumen
investasi tertentu.
Ada
beragam instrumen investasi di pasar, mulai dari yang tidak berisiko (risk free investment) hingga instrumen
yang berisiko. Bagaimana menghitung future
value dari asset yang diinvestasikan? Hal ini sangat tergantung pada jenis
instrumen investasinya.
Jika uang diinvestasikan di deposito dengan
bunga tetap, misalnya 10 persen per tahun, maka akan dengan mudah bisa
diketahui berapa future value dari uang tersebut dalam kurun waktu tertentu,
tergantung berapa lama uang itu diinvestasikan di deposito. Jika uang itu
diinvestasikan selama lima tahun berturut-turut dan hasil investasi
diinvestasikan kembali (compound interest)
maka akan terbentuk formula future value dari uang tersebut.
Misalnya
uang Rp 1 juta didepositokan di bank dengan bunga 10 persen per tahun selama
lima tahun. Dalam lima tahun uang tadi akan tumbuh mengikuti perhitungan
sebagai berikut. Pada tahun pertama uang
akan tumbuh menjadi: Rp 1 juta + 10% atau Rp 100 ribu yakni Rp 1,1 juta. Pada
tahun ke dua jumlah uang tumbuh menjadi: Rp 1,1 juta + 10% atau Rp 110 ribu yakni Rp 1,21 juta. Tahun ke tiga
menjadi Rp 1,21 juta + 10% atau Rp 121 ribu yakni Rp 1,331 juta. Tahun ke empat
menjadi: Rp 1,331 juta + 10% atau Rp 133.100
yakni Rp 1.464.100 dan tahun ke lima menjadi Rp 1.464.100 + 10% atau Rp 146.410 yakni Rp 1.610.510.
Begitu
seterusnya, jika ditulis dengan formula FV = PV (1+i)n, dimana PV merupakan
nilai uang saat ini (present value), ( I ) adalah tingkat suku bunga dan ( n ) adalah
jangka waktu investasi yang dinyatakan dalam tahun. Perhitungan future value di atas
mengasumsikan bahwa uang diinvestasikan di instrumen pendapatan tetap yang
konstan dari tahun ke tahun.
Formula
itu tidak berlaku jika uang diinvestasikan di instrumen saham atau obligasi.
Pasalnya, tingkat imbal hasil atau return di saham sama sekali berbeda dengan
tingkat imbal hasil investasi di deposito dengan sistem bunga berbunga (compound interest). Juga berbeda dengan
return investasi di obligasi.
Imbal
hasil investasi di saham diperoleh dalam bentuk capital gain dan dividen. Ada
formula khusus untuk menghitung berapa nilai masa depan (future value) dari uang yang diinvestasikan di saham. Hal ini
tergantung pada berapa besar dividen yang diterima dan berapa besar perubahan
harga saham di pasar. Ada kalanya harga saham di pasar justru tidak tumbuh,
malah sebaliknya mengalami penurunan. Karena itu menghitung future value untuk investasi di saham
tidak sesederhana menghitung future value
investasi di deposito.
Dari sini
bisa dilihat bahwa setiap instrumen investasi memberikan future value yang berbeda-beda. Future value untuk investasi di deposito lebih
dipergunakan sebagai acuan, bahwa semestinya future value investasi di saham lebih baik atau lebih tinggi
dibandingkan jika investasi di deposito.
Jika
dengan suku bunga 10 persen per tahun, investasi Rp 1 juta di deposito selama
lima tahun bisa menghasilkan Rp 1,61 juta maka semestinya jika investasi di
saham maka future value-nya bisa lebih dari itu. (Tim BEI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar