SELAMAT DATANG DI ZULYA fresh, KAMI MENCARI AGEN DISELURUH WILAYAH KALIMANTAN UNTUK MENJADI AGEN CHEMICAL LAUNDRY AND CLEANING SERVIS. PIN BB: 27D734CE Atau 3056F50A HP.085752910414

Selasa, 24 April 2012

Jurnal Manajemen Keuangan dan Akutansi


ANALISIS EVA, MVA DAN RASIO-RASIO PROFITABILITAS
DALAM PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN
DI BURSA EFEK INDONESIA
Isti Fadah
Lely Ana Ferawati Ekaningsih
ABSTRACT
Purposing of this research is to analysis a calculation, experiment a comparison and difference a evaluation Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA, and profitability ratio in business finance work to manufacture business and non-manufacture in BEI, with analysis a finance work value business that is the best between manufacture business and non manufacture business in BEI or Indonesian Stock Exchange. Research sample is taken by purposive sampling and gotten from 125 manufacture business and 80 non-manufacture business that listed in (BEI) in 2006-2008 research. Variable that is used in this research is Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA, Operating Profit Margin/OPM, Return On Asset/ROA, Return On Equity/ROE, Earning Per Share/EPS, and Return On Sales/ROS 2006-2008 year. This research use Multiple Analysis Of Variance /MANO VA to account a experiment rate difference by simultaneously between manufacture business and non-manufacture business for two or more suspended variable.
Resulting of MANOVA research show that from variable which research by univariat variable that significance is OPM variable, ROA, and ROS. This reality show in difference between OPM variable, ROA, and ROS at manufacture business and non-manufacture business While result calculation Descriptive Statistic show scoring business finances work which the best one between manufacture and non-manufacture business in (BEI) for EVA variable, MVA, OPM, ROA, ROS, happen in non-manufacture. proofed connected with rate value bigger than manufacture. Whereas EPS variable is the best in manufacture business. It's proofed by rate result bigger than non-manufacture business.
Keywords : Economic Value Added, Market Value Added, Profitability Ratio, 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pengukuran kinerja keuangan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena pengukuran tersebut digunakan sebagai dasar untuk menyusun sistem imbalan dalam perusahaan yang dapat mempengaruhi perilaku pengambilan keputusan dalam perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan umumnya dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan seperti rasio profitabilitas. Pengukuran yang hanya menganalisis laporan keuangan memiliki kelemahan utama yaitu mengabaikan adanya biaya modal, sehingga sulit untuk mengetahui apakah suatu perusahaan telah berhasil menciptakan nilai atau tidak. Untuk mengatasi kelemahan tersebut telah dikembangkan konsep baru yaitu EVA dan MVA. EVA dan MVA merupakan indikator tentang adanya penciptaan nilai dari suatu investasi. EVA dan MVA dianggap paling memiliki korelasi

dengan perubahan dan penciptaan nilai saham di perusahaan. Kekuatan konsep EVA dan MVA adalah penciptaan nilai perusahaan dan manajemen dipaksa mengetahui beberapa the true cost of capital dari bisnisnya, sehingga tingkat pengembalian bersih dari modal bisa diperlihatkan secara jelas.
1.2 Rumusan Masalah
a.    Bagaimana perbandingan dan perbedaan EVA, MVA dan Rasio-rasio Profitabilitas dalam Kinerja keuangan Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia?.
b.    Kelompok Perusahaan manakah yang mempunyai kinerja keuangan paling baik antara kelompok perusahaan manufaktur dan non manufaktur?
1.3 Tujuan Penelitian
a.       Untuk menguji perbandingan dan perbedaan penilaian EVA, MVA dan Rasio-rasio Profitabilitas dalam Kinerja keuangan Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
b.      Untuk menganalisis penilaian kinerja keuangan perusahaan yang paling baik antara kelompok Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Pengertian Kinerja
Istilah kinerja atau performance seringkali dikaitkan dengan kondisi keuangan perusahaan. Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan dimanapun, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya.
2.1.2 Pengertian Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena pengukuran tersebut digunakan sebagai dasar untuk menyusun sistem imbalan dalam perusahaan, yang dapat mempengaruhi perilaku pengambilan keputusan dalam perusahaan
2.1.3 Pengertian Kinerja Keuangan
Menurut Helfert (2000) kinerja keuangan adalah hasil dari banyak keputusan manajemen yang dibuat secara terus menerus oleh manajer. Penilaian kinerja keuangan perusahaan merupakan upaya untuk mengetahui prestasi yang ingin

dicapai oleh perusahaan sebagai suatu unit usaha yang umumnya banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksisitensi perusahaan.
2.1.4 Laporan Keuangan Sebagai Informasi Dalam Menilai Kinerja Perusahaan
Laporan keuangan yang disusun dan disajikan kepada semua pihak yang berkepentingan dengan eksisitensi suatu perusahaan, pada hakekatnya merupakan alat komunikasi. Artinya laporan keuangan itu adalah suatu alat yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi keuangan dari suatu perusahaan dan kegiatan­kegiatannya kepada mereka yang berkepentingan dengan perusahan tersebut.
2.1.5 Metode Pengukuran Kinerja Keuangan Perusahaan
a. Economic Value Added/EVA/Nilai Tambah Ekonomi
Istilah Economic Value Added/EVA/Nilai Tambah Ekonomi pertama kali dipopulerkan oleh Stern Steward Management Service yang merupakan perusahaaan konsultan dari Amerika Serikat. Ukuran kinerja ini pertama kali diperkenalkan oleh George Bennet Steward III dan Joel M Stern yang merupakan analis keuangan Stern Steward (Utama, 1997).
Menurut Mirza (1999) tolok ukur penilaian EVA dapat dinyatakan sebagai berikut:
1)      Apabila EVA > 0, berarti nilai EVA positif yang menunjukkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan.
2)      Apabila EVA = 0 menunjukkan posisisi impas atau Break Event Point. 3) Apabila EVA < 0, yang berarti EVA negatif menunjukkan tidak terjadi proses nilai tambah.
Rumus untuk menghitung EVA menurut Brigham dan Houston (2001: 51): EVA = EBIT (1-Tarif Pajak) – (Total Modal) (Biaya Modal Setelah Pajak)
b. Market Value Added/MVA/Nilai Tambah Pasar.
MVA digunakan untuk mengukur seluruh pengaruh kinerja manajerial sejak perusahaan berdiri hingga sekarang. MVA yang dihasilkan oleh kinerja manajerial sepanjang umur perusahaan yang di-present value-kan (Mirza dan Imbuh, 1999). Tujuan dari perusahaan adalah menciptakan MVA yang positif, karena:
1)      MVA > 0 maka manajemen telah berhasil memberikan nilai tambah kepada para penyandang dana.
2)      MVA < 0 maka perusahaan tidak berhasil memberikan nilai tambah kepada para penyandang dana.
Rumus menghitung MVA menurut Brigham dan Houston (2001:50):
MVA = (Saham yang beredar x Harga saham) – Total ekuitas saham biasa

c. Rasio Profitabilitas
Profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan keputusan atau sekelompok rasio yang memperlihatkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang terhadap hasil operasi (Brigham dan Houston 2001:89)
Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)    Operating Profit Margin/OPM/Marjin Laba Operasi merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan/laba bersih sebelum bunga dan pajak pada tingkat penjualan tertentu (Brealey, Myers, Marcus, 2006:8 1). Rumus untuk menghitung OPM (Brealey, Myers, Marcus, 2006:8 1):
Operating Profit Margin/OPM = EBIT/Penjualan
2)    Return on Asset/ROA/Pengembalian Atas Total Aktiva merupakan rasio laba bersih terhadap total aktiva untuk mengukur pengembalian atas total aktiva setelah bunga dan pajak (Brigham dan Houston 2001:90). Rumus untuk menghitung ROA (Brigham dan Houston, 2001: 90)
Return on Asset/ROA = Laba Bersih/Total Aktiva
3)    Return on Equity/ROE/Pengembalian atas Ekuitas Saham Biasa. Rasio laba bersih setelah bunga dan pajak terhadap ekuitas saham biasa. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham (Brigham dan Houston 2001:91). Rumus untuk menghitung ROE (Brigham dan Houston, 2001 : 91)
Return On Equity/ROE = Laba Bersih/Ekuitas Saham biasa
4)    Earning Per Share/EPS merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik (Ciaran Walsh 2003:148). Formula yang digunakan untuk menghitung EPS adalah sebagai berikut (Ciaran Walsh 2003:148).
Earning Per Share/EPS = EAT/jumlah lembar saham.
5) Return On Sales/ROS/Profit Margin On Sales/Marjin Laba atas Penjualan merupakan rasio untuk mengukur laba per rupiah penjualan (Brigham dan Houston 2001:89). Rumus untuk menghitung ROS (Brigham dan Houston 2001:89). Return On Sales/ROS = Laba bersih/Penjualan

2.2 Pengembangan Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini :.
Ha : Ada perbedaan Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA dan rasio­rasio profitabilitas dalam kinerja perusahaan pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
Ho : Tidak ada perperbedaan Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA dan rasio-rasio profitabilitas dalam kinerja perusahaan pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
3. METODE PENELITIAN
3.1 Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data nominal dan rasio. Sumber data adalah data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Pooled, yaitu kombinasi dari time series dan cross section (Gujarati, 2003:4).
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian.
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di BEI selama periode 2006 sampai 2008. Sampel penelitian ini adalah perusahaan manufaktur dan non manufaktur dan dipilih dengan menggunakan Purposive Sampling Method. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel maka sampel penelitian terdiri dari 125 perusahaan manufaktur dan 80 perusahaan non manufaktur.
3.3 Uji Normalitas Data
Pengujian kenormalan data dilakukan untuk mengetahui bahwa data yang dianalisis berdistribusi normal atau tidak. Uji kenormalan data dilakukan dengan pengujian Kolmogorov-Smirnov test dengan menetapkan derajat keyakinan (

4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Proses pemilihan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan publik pada sektor manufaktur dan non manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2006 sampai 2008 sebanyak 409 perusahaan. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel, maka terdapat 205 perusahaan yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel penelitian terdiri dari 125 perusahaan manufaktur dan 80 perusahaan non manufaktur.
4.2 Analisis Data
4.2.1 Uji Normalitas Data
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan kaidah keputusan P Value > 0,05 data dikatakan berdistribusi normal.
Hasil pengujian normalitas data terlihat sebagai berikut:
Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas Data
Variabel                        Kolmogorov – Smirnov                                           Sig
EVA
9,736
0,000
MVA
9,827
0,000
OPM
5,574
0,000
ROA
12,574
0,000
ROE
3,994
0,000
EPS
12,598
0,000
ROS
7,240
0,000
Berdasarkan hasil pengujian tabel diatas diketahui bahwa dengan menggunakan 615 data (n = 615) diperoleh nilai P Value kurang dari 0,05 untuk masing-masing variabel yang diteliti. Hal ini berarti semua variabel dapat dinyatakan tidak berdistribusi normal. Karena dalam pengujian hipotesis menggunakan MANOVA yang menghendaki data berditribusi normal, maka harus dilakukan tindakan untuk menormalkan data yaitu dengan melakukan transformasi menggunakan akar kuadrat/SQRT (Ghozali 2006:32). Dari hasil uji SQRT terdapat beberapa data yang hilang/missing. Kemudian dilanjutkan dengan proses Missing Value untuk mengisi data yang hilang tersebut. Setelah melakukan Missing Value, maka diperoleh data normal yang lengkap. Kemudian dilanjutkan dengan uji MANOVA.

4.3 Pembahasan
4.3.1 Hasil Perbandingan dan perbedaan penilaian EVA, MVA dan Rasio-rasio Profitabilitas dalam Kinerja Perusahaan antara Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
Adapun gambaran mengenai hasil pengujian MANOVA Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur dengan data yang berdistribusi normal dapat dinyatakan sebagai berikut.
Tabel 4.2 Ringkasan Tests of Between-Subjects Effects
Variabel
Type III Sum of Squares
F-hitung
Sig
EVA
.229
1.007
.316
MVA
.460
2.024
.155
OPM
1.876
1.007
.004
ROA
1.353
8.254
.015
ROE
253
5.954
.291
EPS
829
1.115
.057
ROS
1.423
3.646
.013

Berdasarkan tabel tersebut dapat dinyatakan bahwa dari ketujuh variabel yang diteliti secara univariat variabel yang signifikan adalah variabel OPM, ROA, dan ROS. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan variabel OPM, ROA, dan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk variabel OPM, ROA, dan ROS lebih kecil dari 0,05. Sedangkan variabel EVA, MVA, ROE, dan EPS secara univariat variabel tidak signifikan dan tidak berbeda pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk keempat variabel tersebut lebih besar dari 0,05.
Berdasarkan hasil uji MANOVA diperoleh fungsi MANOVA yang dapat dinyatakan dalam tabel berikut
Tabel 4.3 Hasil Estimasi MANOVA
Variabel
Koefisien
t-hitung
Sig
Intercept
.795
14.543
.000
EVA
8.821E-5
1.004
.316
MVA
-3.095E-5
-1.423
.155
OPM
-.050
-2.873
.004
ROA
.059
2.440
.015
ROE
-.017
-1.056
.291
EPS
-.003
-1.909
.057
ROS
-.043
-2.502
.013

Analisis lebih lanjut mengenai fungsi MANOVA adalah sebagai berikut:
1)   EVA memiliki koefisien sebesar 0,0000882 1 dengan probabilitas t-hitung sebesar .316, hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan EVA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang positif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki EVA yang lebih besar dibandingkan perusahaan non manufaktur.
2)   MVA memiliki koefisien sebesar -0,00003095 dengan probabilitas t-hitung sebesar .155, hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan MVA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki MVA yang lebih kecil dibandingkan perusahaan non manufaktur.
3)   OPM memiliki koefisien sebesar -.050 dengan probabilitas t-hitung sebesar .004, hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan OPM antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan non manufaktur memiliki OPM yang lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur.
4)   ROA memiliki koefisien sebesar .059 dengan probabilitas t-hitung sebesar .015, hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan ROA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang positif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki ROA yang lebih besar dibandingkan perusahaan non manufaktur.
5)   ROE memiliki koefisien sebesar -.017 dengan probabilitas t-hitung sebesar .29 1, hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan ROA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan non manufaktur memiliki ROE yang lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur.
6)   EPS memiliki koefisien sebesar -.003 dengan probabilitas t-hitung sebesar .057, hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan EPS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki EPS yang lebih kecil dibandingkan perusahaan non manufaktur.
7) ROS memiliki koefisien sebesar -.043 dengan probabilitas t-hitung sebesar .013, hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan

manufaktur memiliki ROS yang lebih kecil dibandingkan perusahaan non manufaktur.
4.3.2 Hasil Penilaian Kinerja Perusahaan Yang Paling Baik Antara Kelompok Perusahaan Manufaktur Dan Non Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia
Tabel 4.4 Ringkasan Hasil Statistik Deskriptif Kelompok Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur Tahun 2006-2008
Perusahaan Manufaktur                                                            Perusahaan Non Manufaktur
Variabel
Tahun
Mean
Variabel
Tahun
Mean

2006
116.804,25

2006
361.273,64
EVA
2007
183.945,89
EVA
2007
627.372,66

2008
232.884,44

2008
478.181,94

2006
2.735.811,04

2006
5.745.460,25
MVA
2007
4.028.707,50
MVA
2007
9.280.241,76

2008
2.318.983,14

2008
4.582.608,63

2006
1,47

2006
3,84
OPM
2007
4,00
OPM
2007
10,41

2008
5,89

2008
8,11

2006
2,76

2006
3,06
ROA
2007
3,85
ROA
2007
5,51

2008
2,01

2008
3,52

2006
7,55

2006
8,61
ROE
2007
8,43
ROE
2007
12,14

2008
9,65

2008
7,41

2006
2,45

2006
1,51
EPS
2007
2,87
EPS
2007
1,58

2008
3,82

2008
1,48

2006
-0,32

2006
-3,74
ROS
2007
2,04
ROS
2007
13,60

2008
0,75

2008
0,48

Berdasarkan tabel tersebut dapat dinyatakan bahwa, kinerja keuangan antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur yang paling baik untuk variabel EVA, MVA, OPM, ROA, ROS terdapat pada perusahaan non manufaktur dibuktikan dengan diperolehnya hasil Mean yang lebih besar dari perusahaan manufaktur. Sedangkan variabel EPS yang paling baik adalah terdapat pada perusahaan manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan hasil Mean/rata-rata yang lebih besar dari perusahaan non manufaktur. Analisis lebih lanjut untuk hasil penilaian perusahaan yang paling baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur adalah sebagai berikut:
a. EVA yang paling adalah EVA dari perusahaan non manufaktur. Hal ini disebabkan karena laba operasi perusahaan non manufaktur lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur. Menurut Stewart (1993: 118-119)

b.    MVA yang paling baik adalah MVA dari perusahaan non manufaktur. Hal ini menandakan bahwa nilai pasar perusahaan lebih tinggi daripada nilai buku perusahaan sehingga investor tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan non manufaktur.
c.    OPM yang paling baik adalah OPM dari perusahaan non manufaktur. OPM yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja keuangan perusahaan, sehingga meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan penjualan yang dicapai lebih baik perusahaan non manufaktur daripada perusahaan manufaktur.
d.   ROA yang baik ditunjukkan oleh ROA dari perusahaan non manufaktur. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan manajemen perusahaan mengoptimalkan asset yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan semakin tinggi lebih baik ROA dari perusahaan manufaktur.
e.    ROE yang baik ditunjukkan oleh ROE dari perusahaan non manufaktur. Hal tersebut mencerminkan laba perusahaan non manufaktur tinggi. Semakin besar ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham.
f.     EPS yang baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur ditunjukkan oleh EPS dari perusahaan manufaktur. EPS perusahaan manufaktur yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja keuangan perusahaan dibandingkan dengan kinerja keuangan perusahaan non manufaktur, karena meningkatnya kemampuan dalam menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan jumlah lembar saham.
g.    ROS yang baik ditunjukkan oleh ROS dari perusahaan non manufaktur. ROS tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja keuangan yang baik dilihat dari segi penjualan. Pada perusahaan non manufaktur memiliki ROS tinggi karena biaya operasional pada perusahaan non manufaktur lebih rendah dibandingkan pada perusahaan manufaktur, terutama biaya tenaga kerja.
4.4 Keterbatasan
Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan, mengingat masih ada faktor lain yang tidak dapat dijelaskan antara lain :
a. Keterbatasan dalam penelitian ini menggunakan rasio keuangan perusahaan hanya diwakili oleh tujuh buah rasio keuangan, yaitu EVA, MVA, OPM, ROA, ROE, EPS,

ROS, serta variabel dalam penelitian hanya terbatas variabel-variabel akuntansi saja dengan tidak melibatkan faktor ekonomi makro seperti tingkat suku bunga, tingkat inflasi dan lain-lain, sebab terdapat kemungkinan rasio-rasio keuangan lain dan variabel-variabel lain yang lebih signifikan.
b. Keterbatasan dalam pengelompokan perusahaan hanya antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur, serta pengambilan periode penelitian, yaitu periode yang cukup pendek hanya 3 tahun (2006,2007, 2008), sehingga hasil yang diperoleh kemungkinan tidak konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya.
5. KESIMPULAN
a.         Hasil pengujian MANOVA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur data berdistribusi normal menunjukkan bahwa dari ketujuh variabel yang diteliti secara univariat variabel yang signifikan adalah variabel OPM, ROA, dan ROS. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan variabel PM, ROA, dan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk variabel OPM, ROA, dan ROS lebih kecil dari 0,05. Sedangkan variabel EVA, MVA, ROE, dan EPS secara univariat variabel tidak signifikan dan tidak berbeda pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk keempat variabel lebih besar dari 0,05.
b.         Hasil perhitungan Statistik Deskriptif menunjukkan bahwa penilaian kinerja keuangan perusahaan yang paling baik antara kelompok perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek Indonesia untuk variabel EVA, MVA, OPM, ROA, ROS terdapat pada perusahaan non manufaktur, dibuktikan dengan diperolehnya hasil Mean/Rata-rata yang lebih besar dari perusahaan manufaktur. Sedangkan variabel EPS yang paling baik adalah terdapat pada perusahaan manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan hasil Mean yang lebih besar dari perusahaan non manufaktur.
DAFTAR PUTAKA
Brealey, Richard A. Myers, Stewart C. Marcus, Alan J. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Brigham, Eugene F. dan Houston Joel F. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan. Jakarta. Erlangga.
Ghozli, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Cetakan IV. Semarang. Universitas Diponegoro.

Gujarati, Damodar. 2003. Basic Econometric. 4th E, McGraw-Hill New York,
Helfert, Erich A. 2000. Techniques of Financial Analysis : A Guide to Value Creation. 10th Edition, Singapore:McGraw-Hill Book Co,
Kuncoro, Mudrajat. 2003. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Bagaimana meneliti dan menulis tesis?. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Mirza, Teuku dan Imbuh S., 1999. Konsep Economic Value Added : Pendekatan Untuk Menentukan Nilai Riil Manajemen. Usahawan No. 10 Tahun XXVIII, Januari Hal 37 – 40.
Stewart, G.B.,III. 1993, The Economic Value Added: The Quest for Value, A Guide for Senior Managers: Harper Collins.
Utama, Sidharta. 1997. Economic Value Added Pengukur Penciptaan Nilai Perusahaan. Usahawan. No 4,April, hal 10 – 13.
Walsh, Ciaran 2003. Key Management Ratios. Rasio-rasio Manajemen Penting Penggerak dan Pengendali Bisnis. Edisi 3. Jakarta. Erlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar