DALAM PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN
DI BURSA EFEK INDONESIA
Isti Fadah
Lely Ana Ferawati Ekaningsih
Lely Ana Ferawati Ekaningsih
ABSTRACT
Purposing of this research is to
analysis a calculation, experiment a comparison and difference a evaluation
Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA, and profitability ratio in business
finance work to manufacture business and non-manufacture in BEI, with analysis a finance work value business
that is the best between manufacture business
and non manufacture business in BEI or Indonesian Stock Exchange. Research sample is taken by purposive sampling and gotten
from 125 manufacture business and 80 non-manufacture business that
listed in (BEI) in 2006-2008 research. Variable that is used in this research
is Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA, Operating Profit
Margin/OPM, Return On Asset/ROA, Return On Equity/ROE, Earning Per Share/EPS, and Return On Sales/ROS 2006-2008 year.
This research use Multiple Analysis
Of Variance /MANO VA to account a experiment rate difference by simultaneously between manufacture business and non-manufacture
business for two or more suspended variable.
Resulting of MANOVA research show that from variable
which research by univariat variable that significance is OPM variable, ROA, and ROS.
This reality show in difference between OPM variable, ROA, and ROS at manufacture
business and non-manufacture business While result calculation Descriptive Statistic
show scoring business finances work which
the best one between manufacture and non-manufacture business in (BEI) for EVA variable, MVA, OPM, ROA, ROS, happen in
non-manufacture. proofed connected with rate value bigger than
manufacture. Whereas EPS variable is the best in manufacture business. It's
proofed by rate result bigger than non-manufacture business.
Keywords : Economic Value Added, Market Value
Added, Profitability Ratio, 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pengukuran kinerja keuangan merupakan
salah satu faktor yang sangat penting bagi perusahaan,
karena pengukuran tersebut digunakan sebagai dasar untuk menyusun sistem imbalan dalam perusahaan yang dapat mempengaruhi
perilaku pengambilan keputusan dalam
perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan umumnya dilakukan dengan menganalisis
laporan keuangan seperti rasio profitabilitas. Pengukuran yang hanya menganalisis laporan keuangan memiliki kelemahan
utama yaitu mengabaikan adanya biaya modal, sehingga sulit untuk
mengetahui apakah suatu perusahaan telah berhasil menciptakan nilai atau tidak.
Untuk mengatasi kelemahan tersebut telah dikembangkan konsep baru yaitu EVA dan
MVA. EVA dan MVA merupakan indikator tentang adanya penciptaan nilai dari suatu
investasi. EVA dan MVA dianggap paling memiliki korelasi
1.2 Rumusan Masalah
a.
Bagaimana perbandingan dan perbedaan EVA, MVA dan
Rasio-rasio Profitabilitas dalam Kinerja keuangan Perusahaan pada Perusahaan
Manufaktur dan Non Manufaktur
di Bursa Efek Indonesia?.
b.
Kelompok
Perusahaan manakah yang mempunyai kinerja keuangan paling baik antara kelompok
perusahaan manufaktur dan non manufaktur?
1.3 Tujuan Penelitian
a.
Untuk
menguji perbandingan dan perbedaan penilaian EVA, MVA dan Rasio-rasio
Profitabilitas dalam Kinerja keuangan Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur dan
Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
b.
Untuk menganalisis penilaian kinerja keuangan perusahaan
yang paling baik antara kelompok
Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Kajian Teoritis
2.1.1 Pengertian Kinerja
Istilah kinerja
atau performance seringkali dikaitkan dengan kondisi keuangan perusahaan.
Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan dimanapun, karena kinerja
merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan
sumber dayanya.
2.1.2 Pengertian Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja merupakan salah
satu faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena pengukuran tersebut
digunakan sebagai dasar untuk menyusun sistem
imbalan dalam perusahaan, yang dapat mempengaruhi perilaku pengambilan keputusan
dalam perusahaan
2.1.3 Pengertian Kinerja Keuangan
Menurut Helfert (2000) kinerja
keuangan adalah hasil dari banyak keputusan manajemen
yang dibuat secara terus menerus oleh manajer. Penilaian kinerja keuangan
perusahaan merupakan upaya untuk mengetahui prestasi yang ingin
2.1.4 Laporan Keuangan
Sebagai Informasi Dalam Menilai Kinerja Perusahaan
Laporan keuangan yang disusun dan
disajikan kepada semua pihak yang berkepentingan
dengan eksisitensi suatu perusahaan, pada hakekatnya merupakan alat komunikasi. Artinya laporan keuangan itu
adalah suatu alat yang digunakan untuk
mengkomunikasikan informasi keuangan dari suatu perusahaan dan kegiatankegiatannya
kepada mereka yang berkepentingan dengan perusahan tersebut.
2.1.5 Metode Pengukuran Kinerja
Keuangan Perusahaan
a. Economic
Value Added/EVA/Nilai Tambah Ekonomi
Istilah Economic Value Added/EVA/Nilai
Tambah Ekonomi pertama kali dipopulerkan oleh Stern Steward Management
Service yang merupakan perusahaaan konsultan dari Amerika Serikat. Ukuran kinerja ini pertama
kali diperkenalkan oleh George Bennet
Steward III dan Joel M Stern yang merupakan analis keuangan Stern
Steward (Utama, 1997).
Menurut Mirza (1999) tolok ukur penilaian EVA dapat dinyatakan
sebagai berikut:
1)
Apabila EVA > 0, berarti nilai EVA positif yang
menunjukkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan.
2)
Apabila EVA = 0 menunjukkan posisisi impas atau Break
Event Point. 3) Apabila EVA < 0, yang berarti EVA negatif menunjukkan
tidak terjadi proses nilai
tambah.
Rumus
untuk menghitung EVA menurut Brigham dan Houston (2001: 51): EVA = EBIT (1-Tarif Pajak) – (Total
Modal) (Biaya Modal Setelah Pajak)
b. Market
Value Added/MVA/Nilai Tambah Pasar.
MVA
digunakan untuk mengukur seluruh pengaruh kinerja manajerial sejak perusahaan berdiri hingga sekarang.
MVA yang dihasilkan oleh kinerja manajerial sepanjang
umur perusahaan yang di-present value-kan (Mirza dan Imbuh,
1999). Tujuan dari perusahaan adalah menciptakan MVA yang positif,
karena:
1)
MVA
> 0 maka manajemen telah berhasil memberikan nilai tambah kepada para
penyandang dana.
2)
MVA
< 0 maka perusahaan tidak berhasil memberikan nilai tambah kepada para
penyandang dana.
Rumus menghitung MVA
menurut Brigham dan Houston (2001:50):
MVA = (Saham yang beredar
x Harga saham) – Total ekuitas saham biasa
Profitabilitas adalah hasil bersih
dari serangkaian kebijakan dan keputusan atau sekelompok rasio yang
memperlihatkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang terhadap hasil operasi (Brigham dan Houston 2001:89)
Rasio profitabilitas yang digunakan
dalam penelitian ini adalah:
1)
Operating Profit Margin/OPM/Marjin Laba Operasi merupakan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan keuntungan/laba bersih sebelum bunga dan pajak pada tingkat penjualan tertentu (Brealey, Myers,
Marcus, 2006:8 1). Rumus untuk menghitung OPM (Brealey, Myers, Marcus,
2006:8 1):
Operating Profit Margin/OPM = EBIT/Penjualan
2)
Return on Asset/ROA/Pengembalian Atas Total
Aktiva merupakan rasio laba bersih terhadap total aktiva untuk mengukur pengembalian atas total
aktiva setelah bunga dan pajak (Brigham dan
Houston 2001:90). Rumus untuk menghitung ROA (Brigham dan Houston, 2001:
90)
Return on Asset/ROA = Laba Bersih/Total
Aktiva
3)
Return on Equity/ROE/Pengembalian atas Ekuitas Saham Biasa. Rasio laba bersih setelah bunga dan pajak terhadap ekuitas saham
biasa. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian
atas investasi pemegang saham (Brigham dan Houston 2001:91). Rumus untuk
menghitung ROE (Brigham dan Houston, 2001 : 91)
Return On Equity/ROE = Laba
Bersih/Ekuitas Saham biasa
4)
Earning Per Share/EPS merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik
(Ciaran Walsh 2003:148). Formula yang
digunakan untuk menghitung EPS adalah sebagai berikut (Ciaran Walsh
2003:148).
Earning Per Share/EPS = EAT/jumlah lembar
saham.
5) Return On Sales/ROS/Profit Margin On Sales/Marjin
Laba atas Penjualan merupakan
rasio untuk mengukur laba per rupiah penjualan (Brigham dan Houston 2001:89). Rumus untuk menghitung ROS (Brigham dan
Houston 2001:89). Return On Sales/ROS = Laba
bersih/Penjualan
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini :.
Ha : Ada
perbedaan Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA dan
rasiorasio profitabilitas dalam kinerja perusahaan pada perusahaan manufaktur
dan non manufaktur di
Bursa Efek Indonesia.
Ho :
Tidak ada perperbedaan Economic Value Added/EVA, Market Value Added/MVA
dan
rasio-rasio profitabilitas dalam kinerja perusahaan pada perusahaan manufaktur dan non manufaktur di Bursa Efek
Indonesia.
3. METODE PENELITIAN
3.1 Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data nominal dan rasio. Sumber data
adalah data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Pooled, yaitu kombinasi dari time series dan
cross section (Gujarati, 2003:4).
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian.
Dalam penelitian
ini yang menjadi populasi adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di BEI selama periode 2006
sampai 2008. Sampel penelitian ini adalah perusahaan
manufaktur dan non manufaktur dan dipilih dengan menggunakan Purposive Sampling Method. Berdasarkan kriteria pengambilan sampel maka
sampel penelitian terdiri dari 125
perusahaan manufaktur dan 80 perusahaan non manufaktur.
3.3 Uji Normalitas Data
Pengujian
kenormalan data dilakukan untuk mengetahui bahwa data yang dianalisis berdistribusi normal atau tidak. Uji
kenormalan data dilakukan dengan pengujian Kolmogorov-Smirnov test dengan
menetapkan derajat keyakinan (
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Proses pemilihan
Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh perusahaan publik pada sektor manufaktur
dan non manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode 2006 sampai 2008 sebanyak 409 perusahaan. Berdasarkan kriteria
pengambilan sampel, maka terdapat 205
perusahaan yang memenuhi syarat untuk dijadikan sampel penelitian terdiri
dari 125 perusahaan manufaktur dan 80 perusahaan non manufaktur.
4.2 Analisis Data
4.2.1
Uji Normalitas Data
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov
dengan kaidah
keputusan P Value > 0,05 data dikatakan berdistribusi normal.
Hasil pengujian
normalitas data terlihat sebagai berikut:
Tabel
4.1 Hasil Uji Normalitas Data
|
EVA
|
9,736
|
0,000
|
|
MVA
|
9,827
|
0,000
|
|
OPM
|
5,574
|
0,000
|
|
ROA
|
12,574
|
0,000
|
|
ROE
|
3,994
|
0,000
|
|
EPS
|
12,598
|
0,000
|
|
ROS
|
7,240
|
0,000
|
Berdasarkan hasil
pengujian tabel diatas diketahui bahwa dengan menggunakan 615 data (n = 615)
diperoleh nilai P Value kurang dari 0,05 untuk masing-masing variabel
yang diteliti. Hal ini berarti semua variabel dapat dinyatakan tidak
berdistribusi normal. Karena dalam pengujian hipotesis menggunakan MANOVA yang menghendaki
data berditribusi normal, maka harus dilakukan tindakan untuk menormalkan data yaitu dengan
melakukan transformasi menggunakan akar kuadrat/SQRT
(Ghozali 2006:32). Dari hasil uji SQRT terdapat beberapa data yang hilang/missing. Kemudian dilanjutkan dengan
proses Missing Value untuk mengisi data yang hilang tersebut. Setelah melakukan Missing Value, maka
diperoleh data normal yang lengkap. Kemudian dilanjutkan dengan uji
MANOVA.
4.3.1 Hasil
Perbandingan dan perbedaan penilaian EVA, MVA dan Rasio-rasio Profitabilitas dalam Kinerja
Perusahaan antara Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur di Bursa Efek
Indonesia.
Adapun gambaran
mengenai hasil pengujian MANOVA Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur dengan data yang
berdistribusi normal dapat dinyatakan sebagai berikut.
Tabel 4.2 Ringkasan Tests of
Between-Subjects Effects
|
|
Type III Sum of Squares
|
F-hitung
|
Sig
|
|
EVA
|
.229
|
1.007
|
.316
|
|
MVA
|
.460
|
2.024
|
.155
|
|
OPM
|
1.876
|
1.007
|
.004
|
|
ROA
|
1.353
|
8.254
|
.015
|
|
ROE
|
253
|
5.954
|
.291
|
|
EPS
|
829
|
1.115
|
.057
|
|
ROS
|
1.423
|
3.646
|
.013
|
Berdasarkan
tabel tersebut dapat dinyatakan bahwa dari ketujuh variabel yang diteliti secara
univariat variabel yang signifikan adalah variabel OPM, ROA, dan ROS. Hal ini menunjukkan bahwa ada
perbedaan variabel OPM, ROA, dan ROS antara perusahaan manufaktur dan non
manufaktur. Dibuktikan dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk variabel
OPM, ROA, dan ROS lebih kecil dari 0,05. Sedangkan variabel EVA, MVA, ROE, dan EPS secara univariat variabel tidak
signifikan dan tidak berbeda pada perusahaan manufaktur dan non
manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan
diperolehnya nilai signifikansi untuk keempat variabel tersebut lebih besar
dari 0,05.
Berdasarkan hasil uji MANOVA diperoleh fungsi MANOVA
yang dapat dinyatakan
dalam tabel berikut
Tabel 4.3 Hasil Estimasi MANOVA
|
|
Koefisien
|
t-hitung
|
Sig
|
|
Intercept
|
.795
|
14.543
|
.000
|
|
EVA
|
8.821E-5
|
1.004
|
.316
|
|
MVA
|
-3.095E-5
|
-1.423
|
.155
|
|
OPM
|
-.050
|
-2.873
|
.004
|
|
ROA
|
.059
|
2.440
|
.015
|
|
ROE
|
-.017
|
-1.056
|
.291
|
|
EPS
|
-.003
|
-1.909
|
.057
|
|
ROS
|
-.043
|
-2.502
|
.013
|
1)
EVA memiliki koefisien sebesar 0,0000882 1 dengan probabilitas t-hitung
sebesar .316, hal ini berarti tidak ada
perbedaan yang signifikan EVA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang positif membuktikan
bahwa perusahaan manufaktur memiliki
EVA yang lebih besar dibandingkan perusahaan non manufaktur.
2)
MVA memiliki koefisien sebesar -0,00003095 dengan probabilitas t-hitung
sebesar .155, hal ini berarti tidak ada
perbedaan yang signifikan MVA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang negatif membuktikan bahwa
perusahaan manufaktur memiliki MVA yang lebih kecil dibandingkan perusahaan non
manufaktur.
3)
OPM memiliki koefisien sebesar -.050 dengan probabilitas t-hitung
sebesar .004, hal ini
berarti ada perbedaan yang signifikan OPM antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien
yang negatif membuktikan bahwa perusahaan non manufaktur memiliki OPM yang lebih besar dibandingkan perusahaan
manufaktur.
4)
ROA memiliki koefisien sebesar .059 dengan probabilitas t-hitung sebesar
.015, hal ini berarti
ada perbedaan yang signifikan ROA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang positif
membuktikan bahwa perusahaan manufaktur
memiliki ROA yang lebih besar dibandingkan perusahaan non manufaktur.
5)
ROE memiliki koefisien sebesar -.017 dengan probabilitas t-hitung sebesar
.29 1, hal ini
berarti tidak ada perbedaan yang signifikan ROA antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET.
Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan non manufaktur memiliki ROE yang
lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur.
6)
EPS memiliki koefisien sebesar -.003 dengan probabilitas t-hitung sebesar
.057, hal ini
berarti tidak ada perbedaan yang signifikan EPS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET.
Koefisien yang negatif membuktikan bahwa perusahaan manufaktur memiliki EPS yang lebih
kecil dibandingkan perusahaan non manufaktur.
7)
ROS memiliki koefisien sebesar -.043 dengan probabilitas t-hitung sebesar .013,
hal ini berarti ada
perbedaan yang signifikan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur di BET. Koefisien yang negatif
membuktikan bahwa perusahaan
4.3.2 Hasil Penilaian Kinerja Perusahaan Yang Paling
Baik Antara Kelompok Perusahaan
Manufaktur Dan Non Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia
Tabel 4.4 Ringkasan Hasil Statistik
Deskriptif Kelompok Perusahaan Manufaktur dan Non Manufaktur Tahun 2006-2008
|
|
Perusahaan Manufaktur Perusahaan
Non Manufaktur
|
||||
|
Variabel
|
Tahun
|
Mean
|
Variabel
|
Tahun
|
Mean
|
|
|
2006
|
116.804,25
|
|
2006
|
361.273,64
|
|
EVA
|
2007
|
183.945,89
|
EVA
|
2007
|
627.372,66
|
|
|
2008
|
232.884,44
|
|
2008
|
478.181,94
|
|
|
2006
|
2.735.811,04
|
|
2006
|
5.745.460,25
|
|
MVA
|
2007
|
4.028.707,50
|
MVA
|
2007
|
9.280.241,76
|
|
|
2008
|
2.318.983,14
|
|
2008
|
4.582.608,63
|
|
|
2006
|
1,47
|
|
2006
|
3,84
|
|
OPM
|
2007
|
4,00
|
OPM
|
2007
|
10,41
|
|
|
2008
|
5,89
|
|
2008
|
8,11
|
|
|
2006
|
2,76
|
|
2006
|
3,06
|
|
ROA
|
2007
|
3,85
|
ROA
|
2007
|
5,51
|
|
|
2008
|
2,01
|
|
2008
|
3,52
|
|
|
2006
|
7,55
|
|
2006
|
8,61
|
|
ROE
|
2007
|
8,43
|
ROE
|
2007
|
12,14
|
|
|
2008
|
9,65
|
|
2008
|
7,41
|
|
|
2006
|
2,45
|
|
2006
|
1,51
|
|
EPS
|
2007
|
2,87
|
EPS
|
2007
|
1,58
|
|
|
2008
|
3,82
|
|
2008
|
1,48
|
|
|
2006
|
-0,32
|
|
2006
|
-3,74
|
|
ROS
|
2007
|
2,04
|
ROS
|
2007
|
13,60
|
|
|
2008
|
0,75
|
|
2008
|
0,48
|
Berdasarkan
tabel tersebut dapat dinyatakan bahwa, kinerja keuangan antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur yang
paling baik untuk variabel EVA, MVA,
OPM, ROA, ROS terdapat pada perusahaan non manufaktur dibuktikan dengan
diperolehnya hasil Mean yang lebih besar dari perusahaan manufaktur. Sedangkan variabel EPS yang paling baik adalah
terdapat pada perusahaan manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan hasil
Mean/rata-rata yang lebih besar dari perusahaan non manufaktur. Analisis lebih
lanjut untuk hasil penilaian perusahaan yang
paling baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur adalah sebagai berikut:
a. EVA yang
paling adalah EVA dari perusahaan non manufaktur. Hal ini disebabkan karena laba operasi perusahaan non manufaktur
lebih besar dibandingkan perusahaan manufaktur. Menurut Stewart (1993:
118-119)
b.
MVA yang paling baik adalah MVA dari perusahaan non
manufaktur. Hal ini menandakan bahwa nilai
pasar perusahaan lebih tinggi daripada nilai buku perusahaan sehingga investor tertarik untuk
menanamkan modalnya pada perusahaan non manufaktur.
c.
OPM
yang paling baik adalah OPM dari perusahaan non manufaktur. OPM yang semakin tinggi menandakan semakin baik kinerja
keuangan perusahaan, sehingga meningkatnya
kemampuan dalam menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan
penjualan yang dicapai lebih baik perusahaan non manufaktur daripada perusahaan
manufaktur.
d.
ROA yang baik ditunjukkan oleh ROA dari perusahaan non
manufaktur. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan manajemen perusahaan
mengoptimalkan asset yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan semakin
tinggi lebih baik ROA dari
perusahaan manufaktur.
e.
ROE yang baik ditunjukkan oleh ROE dari perusahaan non
manufaktur. Hal tersebut mencerminkan laba perusahaan non manufaktur
tinggi. Semakin besar ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan yang tinggi
bagi pemegang saham.
f.
EPS
yang baik antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur ditunjukkan oleh EPS dari perusahaan manufaktur. EPS perusahaan
manufaktur yang semakin tinggi menandakan
semakin baik kinerja keuangan perusahaan dibandingkan dengan kinerja keuangan perusahaan non manufaktur,
karena meningkatnya kemampuan dalam
menghasilkan keuntungan setelah dibandingkan dengan jumlah lembar saham.
g.
ROS yang baik ditunjukkan oleh ROS dari perusahaan non
manufaktur. ROS tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja keuangan
yang baik dilihat dari segi penjualan. Pada perusahaan non manufaktur memiliki
ROS tinggi karena biaya operasional pada perusahaan non manufaktur lebih rendah
dibandingkan pada perusahaan
manufaktur, terutama biaya tenaga kerja.
4.4 Keterbatasan
Penelitian ini
mempunyai beberapa keterbatasan, mengingat masih ada faktor lain yang tidak dapat dijelaskan antara
lain :
a. Keterbatasan dalam penelitian ini menggunakan
rasio keuangan perusahaan hanya diwakili oleh tujuh buah rasio keuangan,
yaitu EVA, MVA, OPM, ROA, ROE, EPS,
b.
Keterbatasan dalam pengelompokan perusahaan hanya antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur, serta pengambilan
periode penelitian, yaitu periode yang cukup pendek hanya 3 tahun (2006,2007,
2008), sehingga hasil yang diperoleh kemungkinan tidak konsisten dengan hasil
penelitian sebelumnya.
5.
KESIMPULAN
a.
Hasil pengujian MANOVA antara perusahaan manufaktur dan
non manufaktur data berdistribusi
normal menunjukkan bahwa dari ketujuh variabel yang diteliti secara univariat
variabel yang signifikan adalah variabel OPM, ROA, dan ROS. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan variabel PM, ROA,
dan ROS antara perusahaan manufaktur dan non manufaktur. Dibuktikan
dengan diperolehnya nilai signifikansi untuk variabel OPM, ROA, dan ROS lebih
kecil dari 0,05. Sedangkan variabel EVA, MVA,
ROE, dan EPS secara univariat variabel tidak signifikan dan tidak berbeda pada perusahaan
manufaktur dan non manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya nilai
signifikansi untuk keempat variabel lebih besar dari 0,05.
b.
Hasil perhitungan Statistik Deskriptif menunjukkan bahwa
penilaian kinerja keuangan perusahaan yang paling baik antara kelompok perusahaan manufaktur dan non
manufaktur di Bursa Efek Indonesia untuk variabel EVA, MVA, OPM, ROA, ROS
terdapat pada perusahaan non manufaktur, dibuktikan dengan diperolehnya hasil Mean/Rata-rata yang lebih besar dari perusahaan
manufaktur. Sedangkan variabel EPS yang paling baik adalah terdapat pada
perusahaan manufaktur. Hal ini dibuktikan dengan hasil Mean yang lebih besar
dari perusahaan non manufaktur.
DAFTAR PUTAKA
Brealey, Richard A.
Myers, Stewart C. Marcus, Alan J. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Brigham, Eugene F. dan Houston Joel F.
2001. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan. Jakarta. Erlangga.
Ghozli, Imam. 2006. Aplikasi Analisis
Multivariate Dengan Program SPSS. Cetakan IV. Semarang. Universitas Diponegoro.
Helfert, Erich A.
2000. Techniques of Financial Analysis : A Guide to Value Creation. 10th
Edition, Singapore:McGraw-Hill Book Co,
Kuncoro, Mudrajat.
2003. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Bagaimana meneliti dan menulis tesis?. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Mirza, Teuku dan Imbuh S., 1999. Konsep Economic
Value Added : Pendekatan Untuk Menentukan
Nilai Riil Manajemen. Usahawan
No. 10 Tahun XXVIII, Januari Hal 37 – 40.
Stewart, G.B.,III.
1993, The Economic Value Added: The Quest for Value, A Guide for Senior Managers: Harper Collins.
Utama, Sidharta. 1997. Economic Value
Added Pengukur Penciptaan Nilai Perusahaan. Usahawan. No 4,April, hal 10 –
13.
Walsh, Ciaran 2003. Key
Management Ratios. Rasio-rasio Manajemen Penting Penggerak dan Pengendali Bisnis. Edisi 3. Jakarta. Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar