KAYA KALTIM KAYA
ANALISIS ASFEK INTERNAL DAN EKSTERNAL LINGKUNGAN MAKRO
(Kado buat Cagub dan Cawagub Kaltim)
Oleh
DR. H. ABD. RACHIM AF, BA,
SE, MSi *
1.
Profil Kaltim
Kalimantan Timur dengan luas wilayah 245.237,8
km2 atau seluas satu setengah kali pulau Jawa dan Bali, merupakan
bagian 12,18 % dari Luas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang luasnya
1.890.754 km2. Jika dibandingkan luasnya dengan provinsi lainnya
termasuk dalam urutan kedua yakni Papua, Kaltim, Kalteng, Kalbar dan Riau
sedangkan yang terkecil adalah DKI Jakarta.
Iklim Tropis yang dikaruniakan Allah SWT bagi
Kalimantan Timur, berarti ada musim hujan dan adapula musim panas, selain itu
karena letaknya di Khatulistiwa dipengaruhi pula oleh angin Muson Barat dan Timur. Namun dalam beberapa tahun terakhir
ini musim sering terdapat pergeseran sehingga relatif sulit menetapkan secara
emperik. Suhu udara rerata beriklim panas dengan
suhu antara 17,90°C – 35,6°C dan kelembaban berkisar 81,42 – 86,25 %. Dengan curah hujan dengan
range 122,59 mm – 267,32 mm, serta angin terendah 0,70 knot dan tertinggi 8,00
knot.
Dalam upaya percepatan pembangunan di daerah,
Kalimantan Timur menjadi bagian dari pintu gerbang pembangunan di wilayah
Indonesia Bagian Timur. Daerah ini juga dikenal selain luasnya, juga sumberdaya
yang ada di permukaan antara lain Kayu dengan segala hasil hutan ikutan dan
segala margasatwanya. Danau dan Sungai serta laut dengan berbagai jenis
Biotanya. Sedangkan di dalam perut bumi terdapat Tambang Emas, Batubara, Pasir
Kuarsa, Kapur dan segala jenis kimianya. Dari sudut ekonomi dapat ditunjukan
melalui PDRB Kaltim tahun 2004 Rp. 131,8 Triliun, dan Pendapatan Perkapita =
Rp. 32,93 juta dan PDB Nasional Rp. 1.787,69 Triliun atau 7,38 % share PDRB
Kaltim ke PDB Nasional, sedangkan Pendapatan Perkapita Nasional = Rp. 8,30
juta.
Dari sudut Tatanan adminisrasi Pemerintahan,
Kalimantan Timur dibagi menjadi 9 Kabupaten, meliputi Pasir dengan ibukota
Tanah Grogot, Penajam Paser Utara dengan ibukota Penajam, Kutai Barat dengan
ibukota Sendawar, Kutai Kartanegara dengan ibukota Tenggarong, Kutai Timur dengan
ibukota Sanggata, Berau dengan ibukota Tanjung Redeb, Malinau dengan ibukota
Malinau , Bulungan dengan ibukota Tanjung Selor dan Nunukan dengan ibukota
Nunukan. Dengan 4 Kota yakni Bontang, Balikpapan ,
Tarakan dan Samarinda yang sekaligus menjadi ibukota Provinsi Kalimantan Timur
.
---------------------------------
* Sekretaris ILUNI UI Kaltim & Kepala LPPM.UWGM Samarinda
Demografi Kalimantan Timur tahun 1990 = 1.876.663 jiwa meningkat menjadi
= 2.704.851 jiwa pada tahun 2003 atau bertambah rerata 60.000 jiwa setiap
tahunnya atau 5,72 % pertahun. Ditinjau dari persebarnya berdasarkan luas
wilayah sangat tidak merata . Kabuaten dengan luas wilayah 98,85 % dihuni oleh
54 % sedangkan Kota yang luasnya 1,15 % dihuni 40% dengan kepadatan rerata di
Kalimantan Timur adalah 11 .Jiwa/km2. Secara Nasional laju
pertumbuhan 1,50 % dan kepadatannya 114 jiwa/km2.
2.
Aspek Internal dan Eksternal Lingkungan Makro
a.
Sumber daya Alam
Kalimantan Timur dengan luas wilayah 245.237,8
km2, berarti 12,18 % dari Wilayah Negara Kesatuan Rebublik Indonesia
(NKRI), Provinsi ini nomor dua setelah Papua dan luas dibandingkan dengan
seluruh pulau Jawa yang proporsinya 6,75 %. Dengan berbagai keunggulan yang
spesifik di daerah ini, antara lain ; Sungai seluruhnya 298 terusan yang
tersebar di Kabupaten Kutai Kartanegara = 45 terusan, Kutai Timur = 28 terusan,
Kutai Barat = 47 terusan, Kota Samarinda = 7 terusan, Berau = 30 terusan,
Nunukan = 12 terusan, Bulungan = 13 terusan, Malinau= 36 terusan, Balikpapan = 3 terusan, Pasir = 45 terusan,
Berau = 22 terusan. Sungai induk adalah Mahakam, Segah, Linuang, Bulungan,
Lebusan, Sumber, Jenguru dan Karangan. Juga terdapat Danau Seluruhnya terdapat
di Kutai Kartanegara dan Kutai Barat sebanyak 17 danau, yang luas yakni Danau
Jempang = 15.000 Ha, Semayang = 13.000 Ha dan Melintang = 11.000 Ha.
Sumber Daya lainnya berupa Gunung terdapat di 8
Kabupaten sebanyak 49 gunung, dari sudut ketinggian di atas 1000 meter dari
permukaan air laut sebanyak = 30 gunung, yang tersebar di Kabupaten Pasir = 4
gunung, Kutai Barat = 6 gunung, Kutai Kartanegara = 3 gunung, Berau = 6 gunung,
Kutai Timur = 4 gunung, Bulungan = 2
gunung, Malinau = 10 gunung dan Nunukan = 2 gunung. Berkaitan dengan pendukung
lainnya yaitu Iklim tropis Panas dan
Dingin yang diikuti angin Muson dan Suhu yang antara 17,9°C – 35,60 0 C, Kelembaban berkisar 81,42 – 86,25
% serta diikuti pula dengan curah Hujan
antara 122,59 mm – 267,32 mm dan Angin berkisar 0,70 – 0,80 knot.
Sektor pertanian dalam arti luas meliputi Padi,
Perkebunan, Kehutanan, Peternakan dan Perikanan. Hasil Produksi yang dominan
dari sektor pertanian dalam arti luas tersebut adalah: Padi, Palawija, Karet,
Kelapa, Kopi, Lada Cengkeh, Coklat dan Kelapa Sawit. Kehutanan meliputi Hutan
Lindung, Suaka Alam, Produksi, Penelitian dan Wisata, Sektor Peternakan yakni
Sapi, Kerbau, Kambing dan Unggas. Serta sektor Perikanan baik Ikan Sungai
maupun Laut.
Sektor Pertambangan terbesar Minyak Bumi,
kemudian Gas Alam dan batubara serta Emas/Perak. Hasil Produksi tahun 2003 Gas
Alam = 1.648,00 mmscf dan Minyak Bumi = 79,561 mmstb dan Batubara 50.350.950
ton serta Emas 14,90 ton juga Perak 10,66 ton.
b.
Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia, dapat dianalisa melalui
struktur, persebaran, fertilitas, mortalitas, migrasi, perkawinan dan
perceraian, angkatan kerja, pertumbuhan dan kualitas pendidikan dan keterampilan.
Berkaitan dengan pertumbuhan sumber daya manusia yang merupakan kesimbangan
dinamis antara kekuatan yang menambah dan kekuatan yang mengurangi, yang secara
terus menerus dipengaruhi bertambahnya bayi lahir, seiring itu pula dihadapkan
dengan berkurangnya karena kematian dan bertambah atau berkurang disebabkan
migrasi. Apabila tidak diarahkan yang produktif dan bermakna positif, dapat
menjadi beban pembangunan.
Penduduk Kalimantan Timur setiap tahun terus
meningkat Fantastis, pada tahun 1990 = 1.876.663 jiwa menjadi 2.704.851 jiwa pada tahun 2003
atau kenaikan = 60.000 jiwa rerata = 4.615 jiwa/tahun atau 5,72 % / tahun.
Penududuk
sebagai obyek dan sekaligus subyek pembangunan pasti berimplikasi memberikan
kekuatan sejalan dengan itu juga dapat membebani pembangunan itu sendiri dengan
mencermati penduduk secara Nasional = 215.276.000 jiwa, berarti Kalimantan
Timur hanya mencatat = 1,25 % dari
jumlah penduduk Nasional. Di 33 Provinsi, penduduk yang terbanyak di rangking
mulai Jabar, Jatim, Jateng, Sumut, DKI Jakarta, Banten, Sulsel, Lampung dan
Sumsel. Khusus Kalimantan Timur urutan ke 17 dari 33 Provinsi. Namun dilihat
dari laju pertumbuhan penduduk Kalimantan Timur dalam rangking ke 5, yakni
mulai yang tertinggi Maluku Utara, Riau, Bali, Babel, kemudian Kaltim = 3,52 %
Nasional = 1,50 %. Sedangkan kepadatannya, mulai yang terpadat DKI Jakarta,
Jabar, Banten, DI Yogyakarta, Jateng dan Jatim dan Bali. Seluruhnya di Pulau
Jawa untuk Kaltim urutan kepadatan nomor 29 atau dengan kepadatan 20 jiwa/km2,
Nasional kepadatan rerata 114 jiwa/km2.
Dalam lingkup Kalimantan Timur, penduduk
terbanyak mulai Samarinda, Kutai Kartanegara, Balikpapan, Pasir, Kutai Timur, dan
terendah Malinau = 46.694 jiwa. Dilihat dari Kepadatan pada yang tertinggi
Samarinda, Balikpapan, Bontang, Tarakan dan paling rendah adalah Malinau = 1,11
jiwa/km2. Apabila dicermati luas wilayah mulai yang terluas Malinau,
Kutai Timur, Berau, Kutai Barat, Kutai Kertanegara dan yang paling kecil adalah
Bontang.
c.
Sumber Daya Keuangan
Keuangan Daerah yang dicerminkan dengan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun disusun dan ditetapkan oleh Pemerintah
Daerah Provinsi, Kota
dan Kabupaten. Walaupun kemampuan Pemerintah Daerah 10 % - 25 % saja dapat
membiaya pembangunan untuk Pertumbuhan Ekonomi, hal ini harus dapat mengerakkan
Investasi, agar Ekonomi dapat tumbuh minimal 3 kali dari laju pertumbuhan
penduduk. Sehingga dapat meningkatkan Kemakmuran masyarakat.
Berdasarkan data APBD tahun 2004, Anggaran yang dapat
dialokasi untuk belanja Langsung dan tidak langsung dan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) di masing-masing daerah yakni : Provinsi Kaltim = Rp. 3,100
Triliun, dan Rp. 131,856 Triliun. Kota
Samarinda = Rp. 0,739 Triliun dan Rp.
11,421 Triliun, Kota Balikpapan = Rp. 0,713 Triliun dan Rp. 17,285 Triliun,
Kota Bontang = Rp. 0,473 Triliun dan Rp. 36,505 Triliun, Kota Tarakan = Rp.
0,397 Triliun dan Rp. 2,391 Triliun, Kabupaten
Kutai Kartanegara = Rp. 1,992 Triliun
dan Rp. 28,770 Triliun, Kabupaten Kutai Barat = Rp. 0,669 Triliun dan Rp. 2,864
Triliun, Kabupaten Kutai Timur = 0,684 Triliun dan Rp. 9,664 Triliun, Kabupaten
Paser = Rp. 0,298 Triliun dan Rp. 0,225 Triliun, Kabupaten Paser Utara = Rp.
0,446 Triliun dan Rp. 0,992 Triliun, Kabupaten Berau = Rp. 0,605 Triliun dan
3,385 Triliun, Kabupaten Bulungan = Rp. 0,770 Triliun dan Rp. 1,395 Triliun,
Kabupaten Nunukan = Rp. 0,498 Triliun dan Rp. 1,128 Triliun dan Kabupaten
Malinau Rp. 0,442 Triliun dan 0,585 Triliun.
d. Sumber Daya Ekonomi
Suatu alat untuk mengukur kemajuan ekonomi Nasional dikenal
dengan sebutan Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan untuk Regional/Wilayah
disebut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Kondisi ini menggambarkan
kemampuan Nasional atau Regional untuk membuat output (nilai tambah/value
added) pada waktu tertentu. PDB atau PDRB dapat dilihat dari dua sudut yakni
Sektoral dan Penggunaan. Dari sudut sektor biasanya dijabarkan secara garis
besar dalam 11 sektor. Dan untuk mengetahui rerata kemakmuran penduduk, maka
PDB atau PDRB dibagi dengan jumlah Penduduk, sehingga mendapat angka pendapatan
rerata setiap penduduk.
PDB atau PDRB dikelompokkan dengan migas non migas, yang
dihitung atas dasar harga konstan dan harga berlaku. PDRB Kaltim atas dasar
harga berlaku dengan migas tahun 2000 = 75,013 Triliun sedangkan tahun 2004 =
131,86 Triliun. Dengan pendapatan rerata penduduk = Rp. 32,93 juta PDB secara
Nasional = 1.610,01 Triliun berarti Kaltim memberikan sharing = 6,12 %,
sedangkan Pendapatan Perkapita Nasional = Rp. 8,30 juta.
Dilihat dari distribusinya, mulai yang terbanyak DKI
Jakarta, Jatim, Jabar, Jateng dan Kaltim urutan ke 5 dari 33 Provinsi. Ternyata
dilihat dari PDRB rerata penduduk Kaltim yang tertinggi = Rp. 34,29 juta
kemudian DKI Jakarta, Riau, NAD, Babel
dan terendah Nusa Tenggara Timur = Rp. 2,20 juta. Sedangkan Laju Pertumbuhan
Ekonomi, Papua = 8,90 %, Kaltim = 6,74 %, Sulawesi Tenggara = 6,49 %, Gorontalo
= 6,42 %, dan yang paling terendah adalah Jawa Tengah = 2,78 % rerata Nasional
= 3,90 %. PDB dan PDRB dibandingkan dengan beberapa Negara antara lain RRC =
7,8 %, Vietnam = 6,9 %, Thailand = 6 %, Filipina = 4 % dan Malaysia
= 4,1 %. Dilihat distribusi PDRB Kaltim, dengan minyak bumi atas dasar harga
berlaku tahun 2003, didominasi sektor Industri dan pengolahan = 38,70 %,
pertambangan = 35,68 %, Perdagangan, Hotel dan Restauran = 6,86 %, Pengangkutan
dan Komunikasi = 6 %, Pertanian 6,61 % dan yang terendah adalah Sektor Listrik
Gas dan Air Bersih = 0,30 %.
Mencermati PDRB masing Kota
dan Kabupaten se Kaltim, Sektor Industri Pengolahan, Kota Bontang = 96,33 %, Balikpapan = 43,28 %,
Bulungan = 25,23 %, Samarinda = 22,12 %, Tarakan = 15,59 %, Berau = 14,21 % dan
yang terendah Nunukan = 0,04 %. Pertambangan, Kutai Timur = 81,09 %, Kutai
Kartanegara = 75,37 %, Paser = 48,81 %, Kutai Barat = 49,65 %, Nunukan = 44,91
% dan terendah Bontang = 0,12 %. Rerata Kaltim = 38,68 % dan Nasional = 24,65
%. Perdagangan, Hotel dan Restauran, Paser Utara = 57,31 %, Tarakan = 42,16 %, Balikpapan = 29,28 %,
Samarinda = 26,03 %, Malinau = 17,37 %, Bulungan = 16,18 %. Rerata Kaltim 16,32
% dan Nasional = 16,32 %.
Guna mengetahui tingkat kemakmuran rerata dapat dilihat
dari pendapatan Perkapita. Masing Kota dan Kabupaten se Kaltim adalah, Bontang
= Rp. 311,16 juta, Kutai Kartanegara = 59,08 juta, Kutai Timur = Rp. 54,26
juta, Samarinda = 20,30 juta, Bulungan = Rp. 13,76 juta, Malinau = Rp. 12,33
juta dan yang terendah adalah Paser Utara = 5,92 juta. Rereta Kaltim = Rp.
32,93 juta dan Nasional = Rp. 8,30 juta.
e. Sumber Daya Kelembagaan
Kelembagaan dapat dilihat secara Formal, Informal dan non
formal. Seluruh jenis kelembagaan ini harus dikerahkan dan digerakkan untuk
mencapai tujuan yang telah disepakati dan ditetapkan bersama. Pemerintah menggerakkan, Penguasa melaksanakan, Masyarakat
ikut berbuat guna mencapai tujuan tersebut.
Kelembagaan Pemerintah dari Sekretariat Daerah, Badan,
Dinas dan Kantor, Swasta bebentuk Badan Usaha, Kemasyarakatan dari Ketua Rukun
Warga, Ketua Rukun Tetangga, Lembaga Adat, Organisasi Prefisi, Hobi dan Minat
harus menjadi pemimpin untuk melkasankan tujuan bersama yang saling mendukung
dan memberikan yang terbaik dalam pencapaian tujuan
3.
Kenaifan Pembangunan
Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa wilayah
Provinsi Kaltim 12,18 % dari 245.237,8 km2 atau seluas satu
setengahkali pulau Jawa dan Bali, merupakan bagian 12,18 % dari Luas Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang luasnya 1.890.754 km2. Jika
dbandingkan luasnya dengan Provinsi lainnya, termasuk dalam urutan kedua yakni
Papua, Kaltim, Kalteng, Kalbar dan Riau sedangkan yang terkecil adalah DKI
Jakarta.
Dalam hal pembangunan dimana sumber daya sangat
terbatas, adanya kelangkaan, dan memperolehnya perlu energi, maka perlu dilakukan
pilihan dalam menetapkan kebijakan
pembangunan untuk memperoleh hasil yang efektif
dan efisien, disini perlu kenaifan pembangunan dalam menetapkannya
dengan memperhatikan :
a.
Potensi Kaltim
Pembangunan adalah upaya sadar untuk mengubah
nasib bangsa, berikhtiar untuk mengubah masa lampau yang buruk menjadi zaman
dan masa depan yang lebih baik dan dilakukan terus menerus. Di dalamnya
terkandung niat untuk mewariskan masa depan membahagiakan bagi generasi yang
akan datang.
Penduduk dapat ditinjau dari obyek dan subyek
pembangunan di Kalimantan Timur tahun 1990 = 1.876.663 jiwa meningkat menjadi =
2.704.851 jiwa pada tahun 2003 atau rerata 60.000 jiwa setiap tahunnya atau
5,72 % pertahun 2003 atau rerata 60.000 jiwa setiap tahunnya atau 5,72 % pertahun.
Ditinjau dari persebarannya berdasarkan luas wilayah sangat tidak merata.
Kabupaten dengan luas wilayah 98,85 % dihuni oleh 54 % sedangkan Kota yang
luasnya 1,15 % dihuni 46%, dengan kepada rerata di Kalimantan Timur adalah 11
Jiwa/km2. Secara Nasional laju pertumbuhan 1,50 % dan kepadatannya
114 jiwa/km2. Ikhtiar dengan menggelorakan pembangunan di daerah
yang belum mengalami kepadatan sesuai dengan potensi alamnya, yakni dengan development centre atau growt pole
yang baru, sehingga dapat menghindarkan
spread effects dan dapat membentengi bakcwash effects.
Sebagai gambaran ketidak seimbang penduduk
dalam satu wilayah di Kalimantan Timur . Samarinda menempatan urutan pertama
dalam kepadatan penduduk 717 jiwa/km2, kemudian Balikpapan 495
jiwa/km2. Bontang 228 jiwa/km2, Tarakan 225 jiwa/km2.
Sedangkan daerah lainnya dibawah dua digit
dan yang terendah adalah Malinau 1 jiwa/km2. Dari sudut
Pertumbuhan penduduk yang tertinggi Kota
Tarakan 24,41% pertahun, Nunukan 22,31 % pertahun, Malinau 21,60 % pertahun,
Bulungan 9,93 % pertahun, Kutai Kartanegara 7,89 % pertahun, Bontang 7,17 %
pertahun dan yang terendah Kutai Barat dengan pertumbuhan penduduk setiap tahun
1,08 %.
b.
Pertumbuhan Penduduk
Penduduk
Kalimantan Timur tahun 1990 = 1.876.663 jiwa meningkat menjadi = 2.704.851 jiwa
pada tahun 2003 atau rerata 60.000 jiwa setiap tahunnya atau 5,72 % pertahun.
Ditinjau dai persebarannya berdasarkan luas wilayah sangat tidak merata.
Kabupaten dengan luas wilayah 98,85 % dihuni oleh 54 %, sedangkan Kota yang
luasnya 1,15 % dihuni 46%, dengan
kepadatan rerata di Kalimantan Timur adalah 11 Jiwa/km2. Secara
Nasional laju pertumbuhan 1,50 dan
kepadatannya 114 jiwa/Km2. Penduduk
sangat penting peranannya, karena sebagai obyek dan sekaligus
subyek pembangunan pasti berimplikasi
memberikan kekuatan sejalan dengan itu
juga dapat membebani pembangunan itu sendiri.
Dilihat
dari Penduduk Miskin di Kaltim tercatat tahun 2003 sebanyak = 328.597 jiwa,
mulai yang terbanyak secara absolute Kutai Kartanegara = 75.404 jiwa, Samarinda
= 48.137 jiwa, Paser = 47.784 jiwa, Kutai Timur = 28.462 jiwa dan yang terendah Bontang = 8.238
jiwa. Kemiskinan secara Nasional = 37.339.000 jiwa walaupun Provinsi Kaltim
hanya = 12,15 atau nomor urut ke 20 dari 33 Provinsi.
c.
Kondisi Infrasturuktur
Jalan
merupakan Prasarana pengangkutan yang penting untuk memperlancar kegiatan
perekonomian, mobilitas penduduk dan memperlancar arus barang dan jasa dari
satu daerah ke daerah lain dengan demikian dapat menambah nilai suatu barang
(value added) sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan pendapatan
masyarakat. Panjang jalan berdasarkan kewenangan untuk jalan Negara, tahun 1999
1.640,70 km menurun menjadi 1.226,21 km tahun 2003. Jalan Provinsi dari tahun
1999 1.542,50 km menjadi 1.762,07 km tahun 2003 dan panjang jalan Kota/Kabupaten se Kaltim tahun 1999
4.802,40 km menjadi 5.536,58 km pada tahun 2003. Dari pengalaman emperis jalan
yang menghubungkan antar Kota/Kabupaten se kaltim ke Ibu Kota Provinsi Kalimantan
Timur di Samarinda, sangat terbatas. sebagai contoh yang baik hanya Samarinda
Balikpapan, Kutai Kartanegara, Bontang dan Kutai Timur sedangkan kota dan
Kabupaten lainnya ada jalan tetapi tidak
kondusif dan bahkan ada yang belum terhubungkan. Selain itu kesulitan lainnya
Badar Udara yang terbatasa dan pelabuhan laut yang kurang lainnya Bandar Udara
yang terbatas dan Pelabuhan laut yang kurang refresentatif serta Jembatan yang
sedikit tidak seimbang dengan Panjang Sungai. Sebagai contoh Sungai Mahakam 920
Km hanya dihubungkan dengan 2 jembatan.
d.
Indikator Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB)
Mencermati
PDRB masing Kota dan Kabupaten se Kaltim, Sektor Industri Pengolahan, Kota
Bontang = 96,33 % Balikpapan = 43,28 %, Bulungan = 25,23 % Samarinda = 22,12 %
Tarakan = 15,59 % , Berau = 14,21 % dan yang terendah Nunukan = 0,04 %.
Pertambangan, Kutai Timur = 81,09 %, Kutai Kartanegara = 75,37 %, Paser = 48,81
%, Kutai Barat = 49,65 %, Nunukan = 44,91 % dan terendah Bontang = 0,12 %.
Rerata Kaltim = 38,68 % dan Nasional = 24,65 %. Perdagangan, Hotel dan Restauran,
Paser Utara = 57,31 %, Tarakan = 42,16 %, Balikpapan = 29,28 %, Samarinda =
26,03 %, Malinau = 17,37 %, Bulungan = 16,18 %. Rerata Kaltim 16,32 % dan Nasional
= 16,32%.
Guna
mengetahui tingkat kemakmuran rerata dapat dilihat dari pendapatan Perkapita.
Masing-masing Kota dan Kabupaten se Kaltim adalah Bontang = Rp. 311,16 juta,
Kutai Kartanegara = 59,08 juta, Kutai Timur = Rp. 54,26 juta, Samarinda = 20,30
juta, Bulungan = 13,76 juta, Malinau = Rp. 12,33 juta dan yang terendah adalah Paser
Utara = 5,92 juta. Rereta Kaltim = Rp. 32,93 juta dan Nasional = Rp. 8,30 juta.
Mengarahkan
PDRB Kabupaten dan Kota se Kaltim, maka perlu pula memperhatikan keunggulan Kota
dan Kabupaten yang bersangkutan dan mengkonsistensikan dengan Provinsi dan
Nasional. PDB Nasional dan PDRB Kaltim rerata masing-masing, untuk sektor
Pertanian 16,58 % dan 6,41 %, Pertambangan dan Penggalian 10,70 % dan 38,89 %,
Industri Pengolahan 24,65 % dan 37,34 %, Listrik, Gas, dan Air Bersih 2,22 %
dan 0,37 %, Bangunan 6 % dan 2,68 %, Perdagangan, Hotel dan Restauran 16,32 %
dan 6,16 %, Pengangkutan 6,25 % dan 6,16 %, Keuangan 6,88 % dan 1,94 % dan Jasa
10,39 % dan 2,37 %.
Fokus
setiap Kota dan Kabupaten perlu memperhitungkan sektor Basis, Non Basis atau
Spesialisasi, di setiap sektor. Sebagai contoh Sektor Pertanian yang tepat
dikembangkan adalah di Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Paser, Paser Utara,
Berau, Bulungan, Nunukan dan Malinau. Sektor Pertambangan di Kutai Kartanegara,
Kutai Barat, Kutai Timur, Berau dan Bulungan. Sektor Industri Pengolahan di
Samarinda, Balikpapan, Bontang, Tarakan, Bulungan, dan Berau. Sektor Listrik,
Gas, dan Air Bersih di Samarinda, Balikpapan, Paser Utara, Bulungan, dan
Nunukan. Sektor Bangunan di Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Kutai Kartanegara,
Kutai Barat, Kutai Timur, Paser dan Paser Utara. Sektor Perdagangan, Hotel dan
Restauran di Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Kutai Barat, Paser, Paser Utara,
Berau, Nunukan dan Malinau. Sektor Pengangkutan di Samarinda, Balikpapan,
Tarakan, Berau dan Bulungan. Sektor Perbankan di Samarinda, Balikpapan,
Tarakan, dan Paser Utara. Sektor Jasa di Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Kutai
Barat, Paser, Paser Utara, Berau, Bulungan, Nunukan, dan Malinau.
e.
Sumber Daya Terpulihkan
Kalimantan Timur dengan luas wilayah 245. 237,8
km2, berarti 12,18 % dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI), Provinsi ini nomor dua setelah Papua dan lebih luas dibandingkan dengan
seluruh pulau Jawa yang proporsinya 6,75 %. Dengan berbagai keunggulan yang
spesifik di daerah ini, antara lain ; Sungai seluruhnya
298 terusan yang tersebar di Kabupaten Kutai Kartanegara = 45 terusan, Kutai
Timur = 28 terusan, Kutai Barat = 47 terusan, Kota Samarinda = 7 terusan, Berau
= 30 terusan, Nunukan = 12 terusan, Bulungan = 13 terusan, Malinau= 36 terusan, Balikpapan = 3 terusan, Pasir = 45 terusan,
Berau = 22 terusan. Sungai induk adalah Mahakam, Segah, Linuang, Bulungan,
Lebusan, Sumber, Jenguru dan Karangan. Juga terdapat Danau Seluruhnya terdapat
di Kutai Kartanegara dan Kutai Barat sebanyak 17 danau, yang luas yakni Danau
Jempang = 15.000 Ha, Semayang = 13.000 Ha dan Melintang = 11.000 Ha.
Sumber Daya lainnya berupa Gunung terdapat di 8
Kabupaten sebanyak 49 gunung, dari sudut ketinggian di atas 1000 meter dari
permukaan air laut sebanyak = 30 gunung, yang tersebar di Kabupaten Pasir = 4
gunung, Kutai Barat = 6 gunung, Kutai Kartanegara = 3 gunung, Berau = 6 gunung,
Kutai Timur = 4 gunung, Bulungan = 2
gunung, Malinau = 10 gunung dan Nunukan = 2 gunung. Berkaitan dengan pendukung
lainnya yaitu Iklim tropis Panas dan
Dingin yang diikuti angin Muson dan Suhu yang antara 17,9°C – 35,60 0 C, Kelembaban berkisar 81,42 – 86,25
% serta diikuti pula dengan curah Hujan
antara 122,59 mm – 267,32 mm dan Angin berkisar 0,70 – 0,80 knot.
Sektor pertanian dalam arti luas meliputi Padi,
Perkebunan, Kehutanan, Peternakan dan Perikanan. Hasil Produksi yang dominan
dari sektor pertanian dalam arti luas tersebut adalah: Padi, Palawija, Karet,
Kelapa, Kopi, Lada Cengkeh, Coklat dan Kelapa Sawit. Kehutanan meliputi Hutan
Lindung, Suaka Alam, Produksi, Penelitian dan Wisata, Sektor Peternakan yakni
Sapi, Kerbau, Kambing dan Unggas. Serta sektor Perikanan baik Ikan Sungai
maupun Laut.
Sektor Pertambangan terbesar Minyak Bumi,
kemudian Gas Alam dan batubara serta Emas/Perak. Hasil Produksi tahun 2003 Gas
Alam = 1.648,00 mmscf dan Minyak Bumi = 79,561 mmstb dan Batubara 50.350.950
ton serta Emas 14,90 ton juga Perak 10,66 ton. Sumber Daya Alam khususnya Sektor Kehutanan dan Sektor Pertambangan,
terus ditebang dan digali, sudah berapa metrik ton kah Kayu dan Tambangan yang
dipindah tempatkan dari Kalimantan Timur, berarti merubah kesimbangan alam baik
itu terjadinya perubahan iklim, kestabilan lahan dan secara keseluruhan merubah
ekosistem yang telah mapan dan terjadi bermiliar-miliar tahun. Hal ini perlu
diantisipasi untuk dipulihkan kembali dengan cara Penanaman Pohon atau
perbaikan dan rehabilitas lainnya. Sebab ini pada masanya dapat mengakibatkan
perubahan alam yang pada gilirannya memukul balik pada kehidupan umumnya dan manusia
khususnya yang harus secara drastis mengikuti perubahan, dan ini berpeluang
besar terhadap goncangan kehidupan.
4.
Komparatif dan Kompetitif Nisbi Pembangunan
Pembangunan
Wilayah merupakan fungsi dari
penggabungan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya
keuangan, sumberdaya Infrasturuktur dan sumber daya kelembagaan. Dalam
pembangunan wilayah ada berbagai teori yang dapat dijadikan landasan
pemikiran untuk proses pembangunan
tersebut. Dengan menggunakan Teori Basis Ekspor, Teori Sektor, Teori Kausasi Kumulatif,
Teori Lokasi dan Aglomerasi, Teori Tempat Sentral, Teori Kutub Pertumbuhan dan
Teori Pembangunan Polarisasi Keseluruhan teori
tersebut agar dapat menghasilkan suatu produk dalam kegiatan pembangunan yang komparatif dan kompetitif.
Mengingat
suatu wilayah berbeda berbagai sumber daya yang ada, maka diperlukan kebijakan yang mengarah pada
komparatif dan kompetitif nisbi pembangunan, sehingga mencapai hasil
yang telah direncanakan secara tepat. Dalam aplikasinya diperlukan kearifan
untuk mempertimbangkan kebijakan sesuai dengan data, fakta, kondisi, situasi wilayah atau region yang dijadikan wujud pembangunan.
Teori di atas dapat digunakan sebagai contoh penerapan
teori Basis Ekspor, dengan menghitung Location Quotient (LQ) dengan
ketentuan Jika LQ > 1 merupakan
sektor basis, LQ = 1. sektor non basis dan LQ < 1 tingkat spesialisasi sama. Juga dilihat
pengamatan Emperis dengan memperhatikan sumber daya yang Komparatif dan
Kompetitif nisbi pembangunan di wilayah / region tersebut.
Sebagai
upaya mendapatkan hasil secara komparatif dan kompetitif nisbi pembangunan
Kaltim secara keseluruhan lebih diarahkan pada sektor Pertambangan, Samarinda Sektor Jasa dan Perdagangan,
Balikpapan Sektor Pertambangan,
Perdagangan, Bontang sektor Industri dan Perikanan, Tarakan Sektor
Pertambangan dan Perdagangan, Kutai Kartanegara Sektor Pariwisata dan
Perikanan, Kutai Barat Sektor Pertanian dan Pertambangan, Kutai Timur Sektor
Pertambangan dan Perkebunan, Paser Sektor Perkebunan dan Pertambangan, Berau Sektor
Pertambangan dan Pariwisata, Bulungan Pertanian dan Industri, Nunukan Sektor
Perkebunan dan Pertambangan dan Malinau Sektor Pertanian dan Perkebunan.
Selanjutnya
berdasarkan pengamatan empris, contoh yang lebih cepat difokuskan dan
dikembangkan guna keberlanjutan pembangunan. Untuk Kota Samarinda, Pendidikan Tinggi dan
Pasar Swalayan. Kota Balikpapan, Pasar Swalayan dan Bisnis Internasional. Kota Bontang, Industri
Perikanan laut dan Pelabuhan Kota Tarakan, Bisnis Internasional dan Pelabuhan
Regional.
Kabupaten
Kutai Kartanegara, Industri Perikanan Sungai dan Industri Paristiwa. Kutai Barat, Pertanian
Padi Pasang surut dan Buah-Buahan. Kutai Timur, Perkebunan Kelapa Sawit dan Pisang Kepok. Kabupaten Paser, Perkebunan Kelapa
Sawit dan Pertanian. Kabupaten Berau, Pariwisata Laut dan Pertanian. Kabupaten Bulungan,
Pertanian padi sawah dan Perkebunan. Kabupaten Nunukan, Perkebunan Kelapa Sawit dan Perdagangan lintas batas. Kabupaten Malinau, Pertanian Padi Unggulan dan Perkebunan Kelapa Sawit.
5.
Kearifan Dalam kebijakan Pembangunan
Dalam menetapkan skala priorotas pembangunan
harus arif melihat keunggulan dan persaingan nisbi. Dengan memperhatikan
kapasitas yang terpasang pada daerahnya, seperti Sumber Daya Alam, Sumber Daya
Manusia, Kebiasaan dan Kelembagaan yang ada. Sebab tidak mungkin suatu daerah
menghasilkan semua kebutuhan manusia lebih lagi keperluan manusia. Karena
Manusia diciptakan sebagai khalifah, artinya sebagai Pemimpin berarti kandungan
yang dalam arti khalifah dia sebagai Pemimpin bukan sebagai Kepala. Jika ini berarti ada Pembagian tugas kepada
yang dipimpin dan memerlukan Perencanaan, Pelaksanaan,
Pengendalian, Pemantauan dan Pengawasan. Disini makna Dijadikan Manusia
Saling Kenal mengenal yang humanitis bukan egoistis. Yang pasti tidak mungkin tercapai,
karena Penciptaan dan Penguasa Tunggal si jagad raya, tidak menjadikan seperti itu. Wallau’alam bishshawab.
Samarinda,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar